Kasus Penemuan Mayat Mahasiswi di Kosan Tanjung Bintang, Teman Pria Kini Jadi Tersangka

KALIANDA – Kasus penemuan mayat seorang mahasiswi bernama Ammesty Puspita (21) pada hari Minggu (13/3/2022) kemarin sekitar pukul 16.00 WIB, di Dusun 1 C Desa Sabah Balau, Kecamatan Tanjung Bintang Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel) menemui titik terang.

Korban yang belakangan diketahui adalah warga Sriwaluyo 2 RT 019/007 Desa Buyut Ilir, Kecamatan Gunung Sugih, Kabupaten Lampung Tengah, tercatat sebagai mahasiswi salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Bandar Lampung.

Bacaan Lainnya

Adalah FRE (21) teman pria korban yang terakhir kali menemani korban hingga menghembuskan nafas terakhir dan melaporkan kejadian itu kini telah di tetapkan sebagai tersangka oleh Polsek Tanjung Bintang setelah melalui serangkaian pemeriksaan pelapor, kedua saksi, olah TKP dan barang bukti yang ada.

Mewakili Kapolres Lamsel AKBP Edwin, Kapolsek Tanjung Bintang Kompol Faria Arista meniyakan telah menetapkan satu orang tersangka dalam kasus penemuan mayat berjenis kelamin wanita di sebuah kontrakan di Desa Sabah Balau.

“Usai menerima laporan, selanjutnya kepolisian melakukan olah TKP, meminta keterangan terhadap pelapor serta para saksi yang mengetahui dan berada dilokasi kejadian,” terang Kapolsek kepada media, Selasa (15/3).

Dalam pengakuannya kepada petugas, FRE baru seminggu yang lalu berkenalan dengan korban via aplikasi TANTAN. Tepatnya,
hari Sabtu (12/3) sekira jam 19. 30 WIB ia menjemput korban di sebuah kosan di depan kampus UBL dan mengajak jalan-jalan di sekitar Kota Bandar Lampung.

Sekitar jam 22.00 WIB, korban dibawa ke kosan FRE di Dusun 1 C Desa Sabah, Balau Kecamatan Tanjung Bintang. Setengah jam kemudian FRE menanyakan kepada korban untuk berhubungan intim.

“Saya minta melakukan hubungan intim,” ujar FRE kepada petugas.

Dari situlah, FRE melihat kemaluan korban mengeluarkan darah dan langsung coba dibersihkan dengan sarung.

“Cariin obat penambah darah di apotik,” kata FRE menirukan ucapan korban waktu itu.

Sekitar jam 23.30 WIB, FRE lantas menghubungi adiknya bernama Ariyanda dan Ahmad Arizal Husin untuk dimintai tolong membelikan obat penambah darah di apotik terdekat.

Menurut pengakuan adik korban yang kini berstatus saksi, setibanya dari apotik mereka melihat korban tidur terlentang dikasur sembari merintih kesakitan ditambah darah dilantai kamar.

Setelah obat diberikan kepada korban, saksi bergegas tidur di kamar masing-masing. Sedangkan, FRE tidur bersama korban.

Pada saat itu, korban mengatakan kepada FRE bahwa dirinya kemungkinan mengalami alergi, “saya alergi dan mungkin dosisnya terlalu tinggi,” terang FRE menirukan kata-kata korban. FRE sempat menanyakam kepada korban ihwal kenapa meminum obat meski alergi namun korban tak menjawab.

Keesokannya, Minggu (13/3) sekira pukul 07.30 WIB, FRE terbangun karena ada jadwal kuliah. FRE sempat berkata kepada adiknya terkait kondisi korban yang semakin pucat. Meski begitu, FRE tetap saja mengikuti kuliah secara daring dari kontrakannya.

Nahas, sekira jam 14.30 WIB, FRE melihat kondisi korban sudah tidak bernyawa dan memberitahukan hal itu kepada kedua saksi. Kemudian, FRE melaporkan kejadian itu ke Mapolsek Tanjung Bintang.

Dan kini, FRE telah ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi untuk mempertanggung jawabkan atas meninggalnya korban didepan hukum.

Dari hasil olah TKP, polisi mengamankan barang bukti berupa 1 stel pakaian yang di kenakan korban, 1 buah sarung yang di gunakan tersangka untuk mengelap darah korban saat pendarahan dan 1 unit HP merk Realme warna hijau milik korban.

“Adapun pasal yang disangkakan yakni
Pasal 338 dan atau Pasal 351 ayat (3) dan atau Pasal 359 KUH Pidana,” Tegas AKP Faria Arista di penghujung. (Hms/red)

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.